ILMU PASTI APA ILMU SOSIAL?
Tepatnya hari Sabtu kemaren, guru gua memberi tahu bahwa pada tanggal 22 (jika tidak ada perubahan) akan diadakan Psikotes Penjurusan untuk kelas X. Karena sekolah gua belum menganut sistem kurikulum 2013, sekolah gua mengalami keterlambatan dalam penjurusan yang seharusnya diadakan pada awal kelas X. Cuma ada 2 jurusan doang di sekolah gua: IPA dan IPS. Semalaman gua gundah gulana mikirin harus masuk IPA apa IPS.
Sebenernya kalau ada gua mau masuk jurusan Bahasa Dan Budaya, tapi karena nggak ada program tersebut di sekolah gua -mungkin dikendalakan oleh bangunan- jadi gua hanya dipusingkan dengan kedua jurusan itu. Yaa gua pengen IPA tapi hitung-hitungannya itu tau sendiri lah kalau bagi kalian kalian yang masuk IPA, gua juga pengen IPS tapi gua nggak suka pelajaran akutansi. Dan keluarga gua emang menjagokan banget jurusan IPA. Simple aja, bokap IPA, dan beberapa sodara gua juga pada masuk IPA. Bahkan nyokap yang dulu jurusannya A3 atau sekarang disebut IPS mendukung gua untuk IPA.
Ketika gua tanya kenapa nyokap nggak masuk IPA dan lebih milih jurusan IPS, ternyata nyokap gua nggak berani dan takut nggak kuat sama hitung-hitungannya. Ya, beda tipis lah sama gua yang nggak kuat sama hitung-hitungan dan lebih passion ke praktek-praktek dan hafalan. Dan nyokap suruh gua IPA katanya biar gua jadi berani dan nggak kayak nyokap gua yang ragu. Awalnya nyokap gua mau masuk jurusan A2 atau biologi kayak adeknya, tapi dia lebih milih jadi jurusan A3 ketimbang A2.
Sedangkan bokap, dia memang pendukung gua banget masuk IPA semenjak SD malah, katanya gua lebih passion di IPA daripada di IPS, apa lagi setelah lihat NEM IPA gua dulu pernah masuk tertinggi kedua waktu SD -well, cuma hafalan doang sih, nggak kayak waktu SMP atau SMA. Dia dulu emang masuk jurusan A1 atau Fisika yang sekarang setara dengan jurusan IPA. Anehnya, bokap malah lebih memilih masuk jurusan Hubungan Internasional (HI) waktu kuliah dan ambil jurusan S2 Managemen ketimbang mulanya disuruh masuk jurusan teknik atau ahli gizi sama Alm. Bokapnya bokap. Dan ternyata bokap gua termasuk dalam orang beruntung yang masuk PTN ternama, Universitas Gadjahmada. SHITTTTT!!! Bokap gua masuk sana? Bokap gua itu perantau kelas kakap bro. Dia nggak kayak nyokap gua yang dari kecil tinggal di kota metropolitan Jakarta, dia itu PURE FROM SIANTAR (kota yang ada di Sumatra Utara) dan dia KULIAH PALING JAUH DARI KETUJUH SODARANYA YAITU DI JOGJA. Dan sekarang dia tinggal di TANGERANG sama anak istrinya! Dan semenjak mendengar cerita bokap, gua bertekad untuk menjadi duta besar atau diplomat di kemudian hari nanti.
Dan yang anehnya, bokap nggak suka fisika. Padahal masuk jurusan A1 yang jam pelajaran fisikanya di perketat kalau di sistem kurikulum jaman bokap. Ngapain gua belajar fisika kalau gedenya gua nggak ngitung-ngitung listrik kayak tukan PLN? Emangnya penting nyari berapa detik bola jatuh ke tanah? Pertanyaan yang sering gua lontarkan setiap belajar fisika ya begitu. Agak konyol sih, tapi ada benernya juga.
Dan ketika gua bertanya dengan teman-teman sekelas gua, beberapa dari mereka lebih memilih IPS ketimbang IPA. Alasannya cuma satu, mereka males liat rumus, trigonometri dan segala macamnya, dan juga ada faktor kondisi sendiri yang mengharuskan untuk masuk IPS. Peminat IPA di kelas gua bisa dikatakan lumayan sedikit sih sepertinya, cuma para petinggi petinggi kelas doang yang minat. Dan ketika gua tanya ke temen gua gua masuk IPA apa IPS, mereka bilang, "Ah, lu mah tampang tampang IPA udah, ngapain masuk IPS?". Nilai IPA gua memang mencukupi sih masuk ke dalam IPA, tapi kendalanya adalah gua emang lemah dalam hitung-hitungan, so gua harus mikir dua kali juga. Tapi untuk orang labil kayak gua, ya IPA memang disarankan banget. Bukan masuk ngejelek-jelekin sih, tapi IPA itu bisa dibilang jurusan 'maruk'. Karena hampir beberapa fakultas di universitas dan termasuk menggunakan jurusan IPS mengambil dari jurusan IPA malah, contoh konkritnya kakak temen gua yang masuk jurusan IPA malah sekolah di STAN. Memang membantu, tapi kompensasinya ya harus berkutat dengan rumus-rumus sakti aja.
Sedangkan IPS, sebenernya gua lebih suka alur cara belajarnya, santai dan luwes. Dia nggak sepasti IPA, yang bisa dibilang kalau pake kata-kata sendiri bisa lah ngejawabnya. Inilah alasan kenapa orang tua gua lebih memilih gua untuk masuk IPA ketimbang IPS: Biar gua bisa jadi anak yang rajin sama tekun.
Hmmmm, perbandingan sementara IPA VS IPS itu jauh banget, 3 : 1. Cuma tante gua doang yang dulu kuliah di Kimia Analisis yang nyuruh gua untuk masuk IPS. Katanya, peluang untuk kerja dari IPS itu jauh lebih banyak bidangnya ketimbang IPA. Emang sih IPA jarang kepake kalau di Indonesia, cuma beberapa doang yang kepake dan nggak sepasti ilmunya kalau di pekerjaan. Kata tante gua, percuma maksa maksa IPA tapi nggak kuat.
Seharusnya dengan perbandingan itu sih gua milihnya ya jelas IPA, tapi biarlah psikotes yang menjawab ini semua ;w;
Sebenernya kalau ada gua mau masuk jurusan Bahasa Dan Budaya, tapi karena nggak ada program tersebut di sekolah gua -mungkin dikendalakan oleh bangunan- jadi gua hanya dipusingkan dengan kedua jurusan itu. Yaa gua pengen IPA tapi hitung-hitungannya itu tau sendiri lah kalau bagi kalian kalian yang masuk IPA, gua juga pengen IPS tapi gua nggak suka pelajaran akutansi. Dan keluarga gua emang menjagokan banget jurusan IPA. Simple aja, bokap IPA, dan beberapa sodara gua juga pada masuk IPA. Bahkan nyokap yang dulu jurusannya A3 atau sekarang disebut IPS mendukung gua untuk IPA.
Ketika gua tanya kenapa nyokap nggak masuk IPA dan lebih milih jurusan IPS, ternyata nyokap gua nggak berani dan takut nggak kuat sama hitung-hitungannya. Ya, beda tipis lah sama gua yang nggak kuat sama hitung-hitungan dan lebih passion ke praktek-praktek dan hafalan. Dan nyokap suruh gua IPA katanya biar gua jadi berani dan nggak kayak nyokap gua yang ragu. Awalnya nyokap gua mau masuk jurusan A2 atau biologi kayak adeknya, tapi dia lebih milih jadi jurusan A3 ketimbang A2.
Sedangkan bokap, dia memang pendukung gua banget masuk IPA semenjak SD malah, katanya gua lebih passion di IPA daripada di IPS, apa lagi setelah lihat NEM IPA gua dulu pernah masuk tertinggi kedua waktu SD -well, cuma hafalan doang sih, nggak kayak waktu SMP atau SMA. Dia dulu emang masuk jurusan A1 atau Fisika yang sekarang setara dengan jurusan IPA. Anehnya, bokap malah lebih memilih masuk jurusan Hubungan Internasional (HI) waktu kuliah dan ambil jurusan S2 Managemen ketimbang mulanya disuruh masuk jurusan teknik atau ahli gizi sama Alm. Bokapnya bokap. Dan ternyata bokap gua termasuk dalam orang beruntung yang masuk PTN ternama, Universitas Gadjahmada. SHITTTTT!!! Bokap gua masuk sana? Bokap gua itu perantau kelas kakap bro. Dia nggak kayak nyokap gua yang dari kecil tinggal di kota metropolitan Jakarta, dia itu PURE FROM SIANTAR (kota yang ada di Sumatra Utara) dan dia KULIAH PALING JAUH DARI KETUJUH SODARANYA YAITU DI JOGJA. Dan sekarang dia tinggal di TANGERANG sama anak istrinya! Dan semenjak mendengar cerita bokap, gua bertekad untuk menjadi duta besar atau diplomat di kemudian hari nanti.
Dan yang anehnya, bokap nggak suka fisika. Padahal masuk jurusan A1 yang jam pelajaran fisikanya di perketat kalau di sistem kurikulum jaman bokap. Ngapain gua belajar fisika kalau gedenya gua nggak ngitung-ngitung listrik kayak tukan PLN? Emangnya penting nyari berapa detik bola jatuh ke tanah? Pertanyaan yang sering gua lontarkan setiap belajar fisika ya begitu. Agak konyol sih, tapi ada benernya juga.
Dan ketika gua bertanya dengan teman-teman sekelas gua, beberapa dari mereka lebih memilih IPS ketimbang IPA. Alasannya cuma satu, mereka males liat rumus, trigonometri dan segala macamnya, dan juga ada faktor kondisi sendiri yang mengharuskan untuk masuk IPS. Peminat IPA di kelas gua bisa dikatakan lumayan sedikit sih sepertinya, cuma para petinggi petinggi kelas doang yang minat. Dan ketika gua tanya ke temen gua gua masuk IPA apa IPS, mereka bilang, "Ah, lu mah tampang tampang IPA udah, ngapain masuk IPS?". Nilai IPA gua memang mencukupi sih masuk ke dalam IPA, tapi kendalanya adalah gua emang lemah dalam hitung-hitungan, so gua harus mikir dua kali juga. Tapi untuk orang labil kayak gua, ya IPA memang disarankan banget. Bukan masuk ngejelek-jelekin sih, tapi IPA itu bisa dibilang jurusan 'maruk'. Karena hampir beberapa fakultas di universitas dan termasuk menggunakan jurusan IPS mengambil dari jurusan IPA malah, contoh konkritnya kakak temen gua yang masuk jurusan IPA malah sekolah di STAN. Memang membantu, tapi kompensasinya ya harus berkutat dengan rumus-rumus sakti aja.
Sedangkan IPS, sebenernya gua lebih suka alur cara belajarnya, santai dan luwes. Dia nggak sepasti IPA, yang bisa dibilang kalau pake kata-kata sendiri bisa lah ngejawabnya. Inilah alasan kenapa orang tua gua lebih memilih gua untuk masuk IPA ketimbang IPS: Biar gua bisa jadi anak yang rajin sama tekun.
Hmmmm, perbandingan sementara IPA VS IPS itu jauh banget, 3 : 1. Cuma tante gua doang yang dulu kuliah di Kimia Analisis yang nyuruh gua untuk masuk IPS. Katanya, peluang untuk kerja dari IPS itu jauh lebih banyak bidangnya ketimbang IPA. Emang sih IPA jarang kepake kalau di Indonesia, cuma beberapa doang yang kepake dan nggak sepasti ilmunya kalau di pekerjaan. Kata tante gua, percuma maksa maksa IPA tapi nggak kuat.
Seharusnya dengan perbandingan itu sih gua milihnya ya jelas IPA, tapi biarlah psikotes yang menjawab ini semua ;w;

Comments
Post a Comment