ILMU PASTI ATAU ILMU SOSIAL? (Part 2)
Just like my previously post, gua akan kembali membahas tentang penjurusan. Untuk gua, penjurusan emang hukumnya penting banget. Apa lagi kalau di Indonesia, SMA itu udah menjadi terminal masuknya ke dunia pekerjaan. Dan melalui jurusan, gua harus menentukan apa pekerjaan yang tepat dengan jurusan yang akan gua masuki. Anyway, psikotest diundur dan belum dipastikan kapan akan dilaksanakan jadi gua masih diberi kesempatan dan kematengan dalam berfikir tentang jurusan.
Gua memutuskan untuk masuk IPA, fix dan nggak bisa di ganggu gugat kecuali kalau psikotes memutuskan untuk memasukan gua ke IPS. Kenapa gua lebih milih IPA? Sejak gua browsing tentang fakultas-fakultas di perguruan tinggi terkemuka di Indonesia, gua jadi jatuh hati sama Fakultas Kesenian Institut Teknologi Bandung atau ITB. Dan gua berminat untuk mengambil design produk nya disana atau DKV (Design Komunikasi Visual). Sebenernya sih, untuk masuk jurusan itu bisa ambil IPS, tapi gua merasa kayaknya lebih baik gua harus ambil IPA deh kalau mau ambil di jurusan itu karena pasti ada hitung-hitungannya. Sebenernya gua lebih mending masuk design produk karena kalau seandainya gua butuh kerjaan, masuk design produk (mungkin) agak gampang karena design produk agak mirip dengan teknik. Jadi gua harus mati-matian kejar untuk belajar rumus-rumus matematika dan fisika biar gua bisa masuk IPA. It must!
Sebenernya gua nggak terlalu mau mikirin banyak tentang bayangan kuliah nanti, yang harus gua fokuskan adalah apa yang ada di depan mata gua, bukan apa yang ada di depan benda yang ada di depan mata gua. Gua harus memfokuskan diri gua dengan penjurusan. Dua kelompok belajar yang berbeda dan jenjangnya. Agak kastaistis kalau mendengar kalau IPA itu jurusan anak-anak pilihan sedangkan IPS jurusan anak-anak buangan. Hell no. IPS itu nggak segampang yang dilihat, orang-orang yang di IPS adalah orang yang harus bisa menyesuaikan diri mereka dimana pun mereka berada karena mereka mempelajari ilmu sosial, ilmu yang dinamis, sedangkan IPA? They just learn 'bout exact science, ilmu pasti yang nggak bisa diganggu gugat. Emangnya gampang mempelajari sesuatu yang nggak pasti?
Alasan lain kenapa gua pilih IPA adalah karena 'kepastiannya', IPA itu ilmu pasti, nggak bisa di ubah-ubah. Kalau buah apel yang jatuh dari pohon itu pasti jatuh ke bawah, nggak mungkin dong jatuh ke atas. Maksudnya yaaa gua nggak harus belajar yang setiap tahun pasti berubah rumusnya kayak IPS. Dan yang ke dua, walaupun gua lemah di hitung-hitungan, tapi gua suka dengan pelajaran yang menggunakan logika. Gua suka ngotak-ngatik rumus walaupun hasil yang gua cari dengan rumus itu belum tentu 100% akurat dan benar dan gua bisa dibilang lemat di hitung-hitungan. Hitungan sains biasanya menggunakan angka koma, kayak kata temen gua waktu MOS, "IPA itu hitungannya banyakan koma, IPS itu hitungannya banyakan ribuan, gua mau masuk IPA, soalnya kan lebih gampang hitung pake koma." dan pendapat dia bisa di bilang bener juga sih, setelah gua tau GNB dan rumus ekonomi lainnya, gua lebih baik menghitung kalor dan titik akomodasi lensa ketimbang rumus menghitung pajak dan jumlah perkapita.

Comments
Post a Comment